sedekah-bumiSedekah Bumi merupakan kegiatan tradisional yang diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur penduduk atas hasil panen warga. Upacara Sedekah Bumi ini sudah menjadi tradisi mulai jaman nenek moyang, besar kecilnya upacara adat untuk sedekah bumi yang dilaksanakan menurut keadaan hasil panen. Apabila hasil bumi cukup baik, upacara adat sedekah bumi dimeriahkan dengan ritual, gending-gending: Giro Taloen, Srunenan, iling-iling, tari Remo, serta Jula-juli, dengan tumpengan ikannya ayam panggang serta kesenian okol, yaitu permainan gulat tradisional yang dilakukan sebagian besar oleh anak/remaja desa. Pada malam hari, biasanya disusul pagelaran wayang kulit, atau ludruk.Namun jika hasil panen menurun, sdekah bumi tetap dilaksanakan tanpa tambahan pagelaran kesenian.

sedekah-bumi2Sebelum ritual dilaksanakan warga wajib berkumpul di Balai Agung (Balai Kelurahan), setelah waktu yang ditentukan semua bergerak bersama-sama/dikirab menuju puncak acara yang  dipusatkan di Pundhen. Upacara adat ini tiap-tiap tahun selalu diadakan setelah musim panen/musim kemarau (kira-kira bulan Agustus-Oktober) pada hari libur atau hari Minggu. Dan tidak pernah berhenti sampai sekarang, bahkan arak-arakan makanan serta sayut dan buah hasil panen juga di tampilkan di Taman Bungkul sebagai asset pariwisata “Surabaya Unik”.

Rangkaian kegiatan ini terbagi menjadi:

  • Kirab Kadipaten Suroboyo, di Halaman Cagar Budaya Sawunggaling – Kelurahan Lidah Wetan, tanggal 23 Oktober 2016
  • Ritual Ganti Luwur dan Istighotsah Bersama, di Aula Cagar Budaya Sawunggaling), tanggal 26 Oktober 2016
  • Lomba Suluk dan Pagelaran Wayang Kulit Jawa Timuran, di Halaman Cagar Budaya Sawunggaling, tanggal 27 Oktober 2016
  • Pengajian Umum, diHalaman Cagar Budaya Sawunggaling, tanggal 28 Oktober 2016

Pin It on Pinterest

Share This
X