Cak-Ning-surabCak, sapaan untuk para laki-laki Surabaya, dan Ning, sapaan untuk para perempuan Surabaya. Cak dan Ning merupakan sepasang sosok muda Surabaya yang berkualitas yang akan mewakili Surabaya dalam pelestarian budaya daerah dan mampu mengemban tugas sebagai duta wisata Surabaya.

Busana yang dikenakan adalah pakaian khas Surabaya Tempo Doeloe yaitu Udeng Batik Pinggir Modang Putih warna hitam tiga tingkat dengan pancot miring, jas tutup badan dengan asesoris, rantai jam dengan bendel hiasan, kain jarik Parikesit, Rawon atau Gringsing Wiron dan mengenakan terompah bagi Cak Surabaya.

Sedang Ning Surabaya mengenakan sanggul bentuk gelung rambut biasa, kebaya dan kerudung ber-renda, kain sarung batik pesisir dan selop tutup serta mengenakan asesoris anting –anting panjang, binggel dan gelang emas,peniti renteng, celak mata dan pacar.

 

Duta wisata adalah ikon atau figur pariwisata dan kebudayaan yang terpilih setelah melewati serangkaian proses seleksi yang dikemas dalam bentuk pemilihan yang diikuti oleh generasi muda atau remaja.

Duta wisata merupakan perpanjangan tangan pemerintah  dalam upaya memperkenalkan potensi pariwisata dengan tujuan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun asing, pemilihannya dilakukan rutin setiap tahunnya dengan persyaratan tertentu.

Duta wisata adalah ikon pariwisata dan kebudayaan yang terdiri dari sepasang anak muda yang terpilih setelah melewati serangkaian rangkaian seleksi yang dikemas dalam bentuk pemilihan dengan format serupa kontes kecantikan.

Duta wisata memiliki beberapa fungsi penting, diantaranya :

  1. Menjadi pelopor dalam masyarakat akan pentingnya sadar wisata
  2. Menjadi salah satu faktor dalam kemajuan dunia pariwisata
  3. Menjadi media promosi pariwisata
  4. Menjadi sarana dan prasarana masyarakat untuk mengenal segala hal dalam pariwisata

Selama lebih dari 30 tahun, Paguyuban Cak & Ning bersama – sama Pemerintah Kota Surabaya telah melahirkan sosok pemuda/i yang ber POTENSI, ber KUALITAS dan ber DEDIKASI dan sosok pemuda/i yang bisa dan mampu mempresentasikan Potensi Kota Surabaya pada umum nya, dan khusus nya Potensi Seni, Budaya dan Kepariwisataan kota Surabaya.

Apa yang dimaksud dengan Potensi Kota Surabaya pada umum nya…???

Potensi Pendidikan

Melalui Cak & Ning Surabaya, daerah – daerah lain di  Indonesia dapat melihat kualitas / mutu dari Pendidikan Kota Surabaya.

Surabaya dapat dijadikan salah satu kota di Indonesia sebuah barometer untuk kemajuan dan kualitas  Pendidikan.

Potensi Kesehatan

Melalui Cak & Ning Surabaya, daerah – daerah lain di Indonesia dapat melihat kegagahan secara Fisik dari Cak & Ning Surabaya. Artinya, kota Surabaya mampu mencetak sosok pemuda/i yang CERDAS, SEHAT dan GAGAH / CANTIK.

Dan masih banyak potensi – potensi yang kami temukan di Pemuda/I Surabaya melalui ajang Pemilihan Cak&Ning Surabaya ini.

Mungkin ini hanya sedikit dari Lulusan Cak & Ning Surabaya yang bisa menjadi Bukti bahwa Paguyuban Cak & Ning Surabaya melalui serangkaian Pemilihan Duta Wisata Cak & Ning Surabaya mampu mencetak dan melahirkan sosok Pemuda/i Surabaya yang berpotensi yang sekaligus membanggakan masyarakat Kota Surabaya.

Dan bisa di tengok di TIC ( Tourism Information Center ) kota Surabaya yang berlokasi di Balai Pemuda Surabaya Jln.Gubernur Suryo. Setiap hari ada beberapa Pemuda Cak & Ning Surabaya yang stand by disana untuk memberikan informasi tentang kota Surabaya dan potensi – potensi kepada para pengunjung, wisatawan domestik hinga wisatawan Internasional.

Klik di sini untuk informasi pendaftaran:

Pendaftaran Cak dan Ning Surabaya 2016

Cak Surabaya 2016

1463985343908 1463985352119 1463985358520 1463985368355 1463985379183 1463985386746 1463985394184 1463985415113 1463985480093 1463985489026 1463985497623 1463985502531 1463985510628 1463985522579 1463985532444

Ning Surabaya 2016

1463985348141 1463985355498 1463985364009 1463985374753 1463985382420 1463985390330 1463985401153 1463985407725 1463985473268 1463985483732 1463985493588 1463985506752 1463985517841 1463985528468 1463985537103

FILOSOFI CAK SURABAYA

Cak Surabaya Pemilihan Putra dan Putri Daerah di berbagai kota setiap tahun selalu diadakan. Pemilihan ini mengundang berbagai pro dan kontra. Terlepas dari pro dan kontra tersebut kita mencoba untuk menyampaikan (sekaligus menjawab pertanyaan Cak Kandar yll) terutama mengenai busana Cak dan Ning Surabaya.

 

Cak merupakan sosok pemuda pria Surabaya yang ceplas ceplos sehingga lebih suka mengatakan sesuatu secara spontan dan penuh pertimbangan. Sosok Cak Surabaya adalah sosok pelindung dan memiliki loyalitas yang tinggi. Hal ini dapat kita lihat melalui kemanapun Ning pergi, Cak selalu mendampingi.

 

Cak Surabaya memiliki busana kebesaran. Baju Kebesaran adalah pakaian khas Surabaya Tempo Doeloe (dulu) dan hingga kini pakaian tersebut masih digunakan dalam acara besar di kediaman walikota, balai kota dan acara – acara formal yang lain.

 

Setiap baju kebesaran Cak Surabaya memiliki banyak filosofi. Mulai dari Udeng Batik poteh pancot miring warna hitam tiga tingkat hingga terompah. Adapun Penjelasan dari tiap – tiap bagian baju kebesaran adalah sebagai berikut.

a. Udeng Batik poteh pancot miring warna hitam tiga tingkat

Udeng ini memiliki makna bahwa udeng ini merupakan ciri khas dari Jawa Timur, bermotif batik dan memiliki pancot.

b. Jas tutup badan ( beskap )dengan asesoris

Beskap Cak memiliki warna putih gading yang melambangkan kesucian, memiliki 5 kancing berwarna emas yang memiliki makna arek Surabaya selalu menjunjung tinggi rukun islam.

 

c. Kuku macan

Pada awalnya gantungan di baju Cak adalah rantai jam dengan bendel hiasan akan tetapi karena terlalu berat maka diganti dengan kuku macan. Kuku macan sendiri memiliki makna kekuatan dan ketangkasan yang tak terbatas sehingga Cak menjadi pelindung yang tangguh dan dapat dihandalkan. Kuku Macan biasanya digantungkan pada kancing kedua dari kelima kancing baju beskap

d. Sapu tangan merah

Sapu tangan merah ditempatkan di saku sebelah kiri atas beskap kebesaran. Sapu tangan ini melambangkan cak merupakan sosok yang penuh dengan loyalitas dan setia

 

e. Jarik  Parikesit, Rawon atau Gringsing Wiron

Jarik merupakan salah satu lambang dari keluwesan Jawa. Selain itu dalam bertindak arek Surabaya diharuskan untuk bisa bekerja seefektif dan seefisien mungkin tapi tetap tidak meninggalkan aturan dan norma yang ada.

 

f. Terompah

Terompah merupakan salah satu unsur baju kebesaran Cak Surabaya. Terompah adalah simbol kecerdasan, foundation, tempat berpijak, berpikir, termasuk kemudian simbol segala yang duniawi.

FILOSOFI NING SURABAYA

Ning SurabayaSedang Ning Surabaya mengenakan sanggul bentuk gelung rambut biasa, pakaiannya menggunakan kebaya dengan selendang atau kerudung yang diberi renda-renda, dibordir dengan  warna muda. Kebaya dan kerudung, warnanya sama. Kain kebaya tidak boleh tembus pandang, sehingga tidak memperlihatkan pakaian dalam. Lalu memakai peniti renteng.

Bagian bawahnya, busana Ning menggunakan kain sarung batik pesisir, kemiren harus terlihat dengan tumpal yang diletakkan di bagian depan.

Telinga dihiasi anting-anting panjang, kaki memakai binggel dan tanga memakai  gelang emas. Mata diberi celak, jari-jari diberi pacar (warna).

Alas kaki berupa selop bertutup depan, runcing dan tinggi minimal 7 sampai 9 centimeter.

  • good morning = sugeng enjing
  • good evening = sugeng sonten
  • good night = sugeng dalu
  • thank you = matur nuwun
  • you’re welcome = sami – sami
  • how are you? = piye kabare
  • excuse me = amit nggih
  • i’m sorry = sepurane nggih

 

  • can you speak English = iso coro inggris
  • i can’t speak Indonesian = aku gak iso boso Indonesia
  • i don’t understand = aku gak ngerti
  • can you help me? = iso ngerewangi aku ta?
  • where is …? = nang endi nggone …?
  • how much is this? = iki piro?
  • i’m hungry = aku luwe
  • i want to eat = aku arep mangan
  • please take me to … = anterno aku nang …

 

  • yes = iyo
  • no = mboten ; gak
  • don’t = ojo
  • finish = sampun
  • stop here = mandap mriki
  • don’t make it hot (spicey) = ojo pedes

Surabaya is a port town since the periods of Majapahit. Therefore, Surabaya has become an area of convergence of various humans in trading activities. It continues to run in accordance with the development of Surabaya city became the center of the regional economy in eastern Indonesia with a variety of business and trade activities. That’s why not surprising that the city Surabaya became a multi-ethnic city. The largest population in the city of Surabaya 53% of the population of Java, followed by Chinese 25.5%, Madurese 7.5%, 7% of Arab descent and 10% are from other tribes.
Each ethnic and tribes cultures over the years have been mingled in peace and harmony and form a unique and distinctive blend as well known as a cultural of Surabaya.

Pin It on Pinterest

Share This
X